Pages

http://ariefmuliadi30.blogspot.com/. Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 16 April 2013

Teori Jual Beli




Teori Jual Beli
A.    Difinisi,Landasan,Rukun Jual Beli

1.      Pengertian Jual Beli( al-bai’)
Menurut bahasa jual beli adalah pertukaran sesuatu dengan sesuatu yang lain.kata lain dari al-bai’ adalah asy-syira’,al-mubadah,dan at-tijarah. Berkenan dengan kata at-tijarah, dalm al-quran surat fatir ayat 29 dinyatakan :
šcqã_ötƒ Zot»pgÏB `©9 uqç7s? ÇËÒÈ  
mereka itu mengharapkan perniagaan(tijarah) yang tidak akan merugi (QS. Fathir : 29)
sedangkan menurut istilah jual beli, para ulama berbeda pendapat dalam mendifinisikannya.
Ø  Menurut Ulama Hanafiyah:
“ pertukaran harta (benda)dengan harta berdasarkan cara khusus ( yang dibolehkan )”.
Ø  Menurut Imam Nawawi :
“pertukaran harta dengan harta untuk kepemilikan”.
Ø  Menurut Ibnu Qudamah :
“pertukaran harta dengan harta untuk saling menjadi milik”.
2.      Landasan Syara’
Jual beli disyariatkan berdasarkan Al-quran,sunah,dan ijma’:
§  Al-quran :
QS. Al-Baqarah :275

¨@ymr&ur ª!$# yìøt7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$# ...............
Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.



§  As-sunah :
Nabi SAW, ditanya tentang pencaharian yang paling baik, beliau menjawab,”Seseorang bekerja dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur”.

§  Ijma’ :
Ulama telah sepakat bahwajual beli diperbolehkan dengan alasan bahwa manusia tidak akan mampu mencukupi kebutuhan dirinya tanpa bantuan orang lain. Namun demikian, bantuan atau barang milik or5ang lain yang dibutuhkannya itu harus diganti dengan barang lainnya yang sesuai.

3.      Rukun dan Pelaksanaan Jual Beli
Ø  Menurut ulama hanafiyah, rukun jual beli adalah ijab dan qabul yang menunjukkan pertukaran barang secara rida. Baik dengan ucapan maupun perbuatan.

Ø  Menurut jumhur ulama, rukun jual beli ada 4
1.      Penjual (Bai’)
2.      Pembeli (Mustari)
3.      Benda atau Barang (Ma’qud’alaih)
4.      Ijab qabul (shighat)
B.     Syarat Jual Beli
Dalm jual beli terdapat empat macam syarat, yaitu syarat terjadinya akad (in’qad), syarat sahnya akad, syarat terlaksananya akad (nafadz), dan syarat lujum.tujuan adanya semua syarat tersebut antara lain untuk menghindari pertentangan di antara manusia, menjaga kemaslahatan orang yang sedang akad, menghindari jual beli gharar dan lain-lain.
Jika jual beli tidak memenuhi syarat terjadinya akad, maka akad tersebut batal. Jika tidak memenuhi syarat sah, menurut  ulama hanafiyah akad tersebut fasid. Jika tidak memenuhi syarat nafadz, akad tersebut mauqupyang cenderung boleh, bahkan menurut ulama malikiyah, cenderong kepada kebolehan. Jika tidak memenuhi syarat lujum, akad tersebut mukhayyir ( pilih-pilih), baik khiyar untuk menetapkan maupun membatalkan.

Perbedaan pendapatdalam menetapkan persyaratan jual beli :
Ø  Menurut ulama hanafiyah.
Persyaratan yang ditetapkan oleh ulama hanabilah berkaitan dengan syarat jual beli adalah:
a.       Syarat Terjadinya Akad ( in’iqad )
Adalah syarat-syarat yang telah ditetapkan syara’. Jika persyaratan ini tidak terpenuhui, jual beli batal. Tentang syarat ini  ulama hanafiyah menetapkan empat syarat, yaitu sebagai berikut ini.
1.      Syarat aqid (orang yang akad)
Aqid harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
-          Berakal dan Mumayyiz
Ulama hanafiyah tidak mensyaratkan harus baligh. Tasharruf yang bermanfaat secara umum terbagi tiga :
*      Tasharruf yang bermanfaat secara murni, seperti hibah
*      Tasharruf yang tidak bermanfaat secara murni,seperti tidak sah salat oleh  anak kecil.
*      Tasharruf yang berada di antara kemanfaatan dan kemadaratan, yaitu aktivitas yang boleh dilakukan tetapi atas seizin wali.
-          Aqid harus berbilang sehingga tidaklah sah akad dilakukan seorang diri. Minimal dilakukan dua orang yaitu pihak yang menjual dan membeli.
2.      Syarat dalam akad
Syarat ini hanya satu, yaitu harus sesuai antara ijab dan qabul. Namun demikian,dalam ijab qabul terdapat tiga syarat berikut ini.
-          Ahli akad menurut ulama hanafiyah, seorang anak yang  berakal dan mumayyiz( berumur tujuh tahun tetapi belum baligh) dapat menjadi ahli kad. Ulama malikiyah dan hanabilah berpendapat bahwa akad anak mumayyiz brgantung pada izin walinya.sedangkan menurut  Ulama syafi’iyah, anak mumayyiz yang belum baligh tidak dibolehkan melakukan akad sebab ia belum dapat menjaga agama dan hartanya ( masih bodoh).
Allah SWT.berfirman :
Ÿwur (#qè?÷sè? uä!$ygxÿ¡9$# ãNä3s9ºuqøBr& ÓÉL©9$# Ÿ@yèy_ ª!$# ö/ä3s9 $VJ»uŠÏ%
    
 dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan.( QS. An-Nisa’ : 5 )
-          Qabul harus sesuai dengan ijab
-          Jiab dan qabul harus bersatu, yakni berhubungan antara ijab dan qabul walaupun tempatnya tidak bersatu.
3.      Tempat akad
Harus bersatu atau berhubungan antara ijab dan qabul.
4.      Ma’qud ‘laih (objek akad )
Ma’dud alaih harus memenuhi emapat syarat :
§  Ma’qud alaih harus ada, tidak boleh akad atas barang yang tidak ada atau dikhawatirkan tidak ada seperti jual beli buah yang belum tampak, tau jual beli hewan yang masih dalam kandungan.
§  Harta harus kuat,tetap,dan bernilai,yakni benda yang mungkin dimanfaatkan dan disimpan.
§  Benda tersebut milik sendiri
§  Dapat diserahkan
b.      Syarat pelaksanaan akad (Nafadz)
1.      Benda dimiliki  aqid atau berkuasa untuk akad
2.      Pada benda tidak terdapat milik orang lain
Oleh karena itu, tidak boleh menjual barang sewaan atau barang gadai, sebab barang tersebut bukan miliknya sendiri, kecuali kalau diizinkan oleh pemilik sebenarnya, yakni jual beli yang ditangguh(mauquf).
Berdasarkan nafadz dan waqaf(penangguhan), jual beli terbagi dua :
-          Jual beli nafidz
Jual beli yang dilakukan oleh orang yang memenuhi syarat dan rukun jual beli, sehingga jual beli tersebut dikatagorikan sah.
-          Jual beli mauquf
Jual beli yang dilakukan  oleh orang yang tidak memenuhi persyaratan nafadz,yakni bukan milik dan tidak kuasa untuk melakukan akad,seperti jual beli fadhul(jual beli bukan milik orang lain tanpa ada izin). Namun demikian, jika pemiliknya mengizinkan jual beli fadhul dipandang sah. Sebaliknya jika pemilik tidak mengizinkan dipandang batal.
                        Para ulama berbeda  pendapat dalam menghukumi jual beli fadhul.
c.       Syarat sah akad
Syarat ini terbagi atas dua bagian,yaitu bagian umum dan khusus
-          Syarat umum
Syarat umum adalah syarat-syarat yang berhubungan dengan semua bentuk jual beli yang telah ditetapkan syara’.diantaranya adalah syarat-syarat yang telah disebutkan di atas, juga harus terhindar kecacatan jual beli, yaitu ketidak jelasan,keterpaksaan, pembatasan dengan waktu (tauqid),penipuan(gharar),kemudaratan, dan persyaratan yang merusak lainnya.
-          Syarat khusus
Syarat khusus adalah syarat-syarat  yang hanya ada pada barang=barang tertentu. Dan harus memenuhi persyratannya.
d.      Syarat lujum (kemestian)
Syarat ini hanya ada satu,yaitu akad jual beli harus terlepas atau terbebas dari khiyar yang berkaitan dengan kedua pihak dan akan menyebabkan batalnya akad.
Ø  Madzhab maliki
Syarat-syarat yang dikemukakan oleh ulama malikiyah yang berkenan dengan aqid,sighat,dan ma’qud ‘alaih berjumlah sebelas syarat :
a.       Syarat aqid,yaitu penjual atau pembeli, dalam hal ini terdapat tiga syarat, ditambah satu bagi penjual :
-          Penjual dan pembeli harus mumayyiz
-          Keduanya merupakan pemilik barang atau yang dijadikan wakil
-          Keduanya dalam keadaan sukarela
-          Penjual harus sadar dan dewasa.
b.      Syarat dalam sighat :
-          Tempat akad harus bersatu
-          Pengucapan ijab dan qabul tidak terpisah
c.       Syarat harga dan yang dihargakan
-          Bukan barang yang dilarang syara’
-          Harus suci.
-          Bermanfaat menurut pandangan syara’
-          Dapat diketahui oleh kedua orng yang akad
-          Dapat diserahkan
Ø  Madzhab syafi’i
Ulama syafi’iyah mensyaratkan 22 syarat,yang berkaitan dengan aqid,shighat,dan ma’qud ‘alaih :
a.       Syarat aqid
-          Dewasa atau sadar
Aqid harus baligh dan berakal, menyadari dan mampu memelihara agama dan hartanya.
-          Tidak dipaksa atau tanpa hak
-          Islam
Dipandang tidak sah orang, orang kafir yang memberi kitab al-qur’an
Atau kitab-kitab yang berkaitan dengan agama, seperti hadis, itab-kitab fiqih,dan juga membeli hamba yang muslimseperti dalam firman allah SWT.
`s9ur Ÿ@yèøgs ª!$# tûï̍Ïÿ»s3ù=Ï9 n?tã tûüÏZÏB÷sçRùQ$#  .................. ¸xÎ6y
  “dan Allah sekali-kali tidak memberi jalan bagi orang kafir untuk menghina orang mukmin.”
-          Pembeli bukan musuh,umat islam dilarang menjual barang,khususnya senjata, kepada musuh yanh akan digunakan untuk memerangi dan menghancurkan kaum muslimin.
b.      Syarat shighat
-          Berhadap-hadapan
Pembeli atau penjual harus menunjukkan shighat akadnya kepada orang yang sedang bertransaksi dengannya,yakni harus sesuai dengan orang yang dituju. Dengan demikian, tidak sah berkata,”saya menjual kepadamu” tidak boleh berkata,” saya menjual kepada ahmad” padahal nama pembeli bukan ahmad.
-          Ditujukan pada seluruh badan yang akad
Tidak sah mengatakan,”saya menjual barang ini kepada kepala atau tangan kamu.”
-          Qabul diucapkan oleh orang yang dituju dalam ijab orang yang mengucapkan qabul haruslah orang yang ijab, kecuali jika diwakilkan.dan 8 lainnya
-          Harus menyebutkan barang atau harga
c.       Syarat ma’qud ‘alaih(barang)
-          Suci
-          Bermanfaat
-          Dapat diserahkan
-          Barang milik sendiri atau menjadi wakil orang lain
-          Jelas dan diketahui oleh kedua orang yang melakukan akad
Ø  Madzhab Hambali
a.       Syarat aqid
-          Dewasa
-          Ada keridaan
b.      Syarat shighat
-          Berada di tempat yang sama
-          Tidak terpisah, antara ijab dan qabul tidak terdapat pemisah yang menggambarkan adanya penolakan.
-          Tidak dikaitkan dengan sesuatu.akad tidak boleh dikaitkan dengan sesuatu yang tidak  berhubungan dengan akad.
c.       Syarat ma’qud ‘alaih
-           Harus berupa harta
-          Milik penjual secara sempurna
-          Barang dapat diserahkan ketika akad
-          Barang diketahui oleh penjual dan pembelian
-          Harga diketahui oleh kedua pihak yang akad
-          Terhindar dari unsur-unsur yang menjadikan akad tidak sah
C.     Hukum Bai’ beserta Pembahasan Barang dan Harga
1.      Hukum Akad (ketetapan akad)
Hukum akad adalah tujuan dari akad.dalam jual beli, ketetapan akad adalah menjadikan barang sebagai milik pembeli dan menjadikan harga atau uang sebagi sebagai milik penjual.
Secara umum hukum akad dibagi 3 :
§  Dimaksudkan sebagai taklif. Yang berkaitan dengan wajib,haram,sunah,makruh,dan mubah.
§  Dimaksudkan  sesuai dengan sifat-sifat syara’ dan perbuatan ,yaitu : sah, luzum, dan tidak luzum, seperti pernyataan”Akad yang sesuai dengan rukun dan syaratnya disebut sahih lazim.”
§  Dimaksudkan sebagai dampak tasharruf syara’, seperti wasiat yang memenuhi ketentuan syara’berdampak pada beberapa ketentuan, baik bagi orang diberi wasiat maupun bagi orang atau benda yang diwasiatkan.
2.        Tsaman dan Mabi’(harga dan barang jualan)
a.       Pengertian harga dan mabi’
Secara umum mabi’ adalah perkara yang menjadi tentu dengan ditentukan. Sedangkan harga secar umum adalah perkara yang tidak tentu ditentukan.
b.      Penentuan mabi’
Penentuan mabi’ adalah penentuan barang yang akan dijualdari barang-barang lainnya yang tidak akan dijual, jika penentuan tersebut menolong atau menentukan akad, baik pada jual beli yang barangnya ada di tempat akad atau tidak. Apabila mabi’ tidak ditentukan dalam akad,penentuannya dengan cara penyerahan mabi’ tersebut.

c.       Perbedaan Harga,Nila, dan Utang
-          Harga,hanya terjadi pada akad, yakni sesuatu yang direlakan dalam akad, baik lebih sedikit, lebih besar atau sama dengan nilai barang. Biasanya harga dijadikan penukar barang yang diridhai oleh kedua pihak akad.
-          Nilai sesuat, sesuatu yang dinilai sma menurut pandangan manusia.
-          Utang, sesuatu yang menjadi tanggungan seseorang dalam urusan harta, yang keberadaannya disebabkan adanya beberapa iltijam, yakni keharusan untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu untuk orang lain, seperti merusak harta gashab,berutang dan lain-lain.
d.      Perbedaan mabi’ dan harga
Kaidah umum tentang mabi’ dan harga adalah segala sesuatu yang dijadikan mabi’ adalah sah dijadikan harga, tetapi tidak semua harga dapat menjadi mabi’.
Diantara perbedaan mab’ dan tsaman :
-          Secar umum uang adlah harga, sedangkan barang yang dijual adalah mabi’.
-          Jika tidak menggunakan uang, barang yang akan ditukarkan adalah mabi’ dan penukarnya adalah harga.
e.       Ketetapan mabi’ dan harga
Hukum-hukum yang berkaitan denga mabi’ dan harta antara lain :
§  Mabi disyaratkan haruslah harta yang bermanfaat, sedangkan harga tidak disyaratkan demikian.
§  Mabi’ disyaratkan harus ada dalam kepemilikan penjual, sedangkan harga tidak disyaratkan demikian.
§  Tidak boleh mendahulukan harga pada jual beli pesanan, sebaliknya mabi’ harus didahulukan.
§  Orang yang bertanggung jawab atas harga adalah pembeli, sedangkan yang bertanggungjawab atas mabi’ adalah penjual.
§  Menurut ulama hanafiyah, akad tanpa menyebut harga adalah fasid dan akad tanpa menyebut mabi’ adalah batal.
§  Mabi’ rusak sebelum penyerahan adalah batal,sedangkan bila harga rusak sebelum penyerahan tidak batal.
D.    Hukum dan Sifat Jual Beli
Ditinjau dari hukum jual beli, para ulama membagi jual beli menjadi dua macam, yaitu jual beli sah(sahih), dan jual beli tidak sah. Jual beli sahih adalah jual beli yang memenuhi ketentuan syara’, baik rukun maupun syaratnya.sedangkan jual beli tidak sah adalah jual beli yang tidak memenuhi salah satu syarat dan rukunsehingga jual beli menjadi fasid atau batal.
E.     Jual Beli yang Dilarang dalam Islam
v  Terlarang Sebab Ahliyah(ahli akad),jual beli atas orang giala,anak kecil, orang buta, jual beli terpaksa,fadhul,orang yang terhalang, dan jual beli malja’  itu jual beli tidak sah.
v  Terlarang Sebab Shighat,seperti jual beli mu’athah,jual beli melalui surat atau melalui utusan,dengan isyarat dan tulisan,barang yang tidak ada ditempatkan  akad,tidak bersesuaian antara ijab dan qabul, dan jual beli munjiz.
v  Terlarang Sebab Ma’qud ‘alaih,jual ; beli banrag yang tidak ada atau dikhawatirkan tidak ada,jual beli barang yang tidak dapat diserahkan,jual beli gharar,jual beli barang yang najis dan terkena najis,jual beli air,jual beli mahjuljual beli barang yang tidak ada ditempat akad,jual beli sesuatu belum dipegang,jual beli buah-buahan atau tumbuhan.
v  Terlarang sebab syara’: jual beli riba,jual beli dengan uang dari barang yang diharamkan,jual beli barang dari hasil pencegatan barang,jual beli waktu azan jumat,jual beli anggur untuk dijadikan khamar,jual beli induk tanpa anaknya yang masih kecil,jual beli barang yang sedang dibeli oleh  orang lain,dan jual beli memakai syarat.
F.      Macam-macam Jual Beli
*      Jual beli saham (Psanan)
Jual beli saham adalah jual beli melailui pesanan, yakni jual beli dengan cara menyerahkan terlebih dahulu uang muka kemudian uangnya diantar belakangan.
*      Jual beli muqayadhah (Barter)
Jual beli muqayadhah adlah jual beli dengan cara menukar barang dengan barang.
*      Jual beli muthlaq
Jual beli muthlaq adalah jual beli barang dengan sesuatu yang telah disepakati sebagai alat pertukaran, seperti uang.
*      Jual beli alat penukar dengan alat penukar
Jual beli barang yang bisa dipakai sebai alat penukar dengan alat penukar lainnya.seperti uang perak dengan uang emas.
Berdasarkan segi harga jual beli dibagi menjadi empat bagian :
®    Jual beli yang menguntungkan ( al-murabbahah)
®    Jual beli yang tidak menguntungkan,yakni jual beli dengan harga saslinya (at-tauliyah)
®    Jual beli rugi (al-khasarah)
®    Jual beli dengan tidak memberitahu harga aslinya oleh sipenjual,tetapi kedua orang yang akad saling meridai,jual beli ini yang  berkembang sekarang (al-musawamah).



                                                                                   





                                                                                                     

2 komentar:

 

Google+ Badge

Share It